TAROETOENG

TAROETOENG, DULU SITOR SINGGAH DI SINI Buku antologi ini seperti cermin. Terutama bagi para pengambil kebijakan publik. Cermin tak sekadar  memantulkan bayang-bayang kejayaan masa lalu,  tapi juga sarana untuk  mengenali kekurangan diri, dan sumber inspirasi untuk kerja-kerja  transformatif.  Pembangunan untuk  kemaslahatan masyarakat Tapanuli. Tulisan Dian Purba enak dibaca, gampang dimengerti dan (memang) perlu. Ia menggunakan teknik kutipan,  dialog, metafora untuk menekankan hal-hal tertentu yang hendak disampaikan. Terakhir, catatan-catatan dalam buku ini, penting.  -J Anto, penulis buku Yoe Kim Lay: Wijkmeester Tionghoa Tarutung 1916- 1932, Sahabat Masyarakat Batak (Penerbit Buku Kompas, 2022) Kehadiran Belanda di Tapanuli khususnya di Tarutung sangat berdampak pada kehidupan sosial budaya dan sistem pendidikan. Sekolah-sekolah dibangun, pendidikan berkembang dengan cepat, dan berkat peran para zending, banyak anggota masyarakat Tapanuli Utara menjadi lebih terpelajar secara Barat dibanding masyarakat daerah lain di pulau Sumatra. Banyak orang Batak mengejar dan mendamba pendidikan, menjadikan pendidikan sebagai satu-satunya jalan untuk kemajuan. Dari kesadaran itulah lahir banyak tokoh asal Tapanuli Utara yang sukses di bidangnya. Tulisan-tulisan di buku ini sangat mencerahkan. Dian Purba menyajikan beragam topik menarik dan penting. Sebagai anak rantau, buku ini membawa saya lebih dekat dengan daerah asal leluhur.   Freddy M Panggabean, Wakil Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda 14×20 cmxviii + 214 hal2024Rp89.000, diskon 20% untuk pemesanan mulai 1-15 April 2024. Buku dikirim ke alamat penerima setelah tanggal 15 April 2024.  Penerbit Lingkup mendukung gerakan membeli dan membaca buku. Karena membeli buku adalah sebuah kehormatan. #bukubaru#bukubarupenerbitlingkup#penerbitlingkup#dianpurba#taroetoengdulusitorsinggahdisini Judul-judul isi buku: 1. Julius Schreiber dan Johannes Winkler: Dua Dokter Misionaris Pertama di Rura Silindung2. Zending, Penyakit, dan Perubahan Kultur Pengobatan di Rura Silindung3. Kekristenan dan Sistem Sekolah sebagai Ruang Antara dan Titik Tolak Intelektual Awal Batak4. Uli Artha dan “Autentisitas” Ulos5. Ndang Ditanda Hamu Ahu?6. Yoe Kim Lay: Tionghoa di Tanah Batak7.Tarutung, Dulu Sitor Singgah di Sini8. Lalu, Kenapa ke Tarutung?9. Sarimpang Art dan Kampus yang Bermusik10. Oleh-oleh dari Festival Literasi Balige11. Sejak Kapan “Willem” menjadi Nama Orang Batak?12. Begu Antuk, Penyakit Kolera di Tanah Batak13. “Jangan Menangis, Ibumu Bukan Lagi manusia; Dia Terkena Kusta”14. Pesan Keberagaman dari Tarutung  


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *